DAN (INGATLAH JUGA), TATKALA TUHANMU MEMAKLUMKAN; "SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI KAMI AKAN MENAMBAH (NI’MAT) KEPADAMU, DAN JIKA KAMU MENGINGKARI (NI’MAT-KU), MAKA SUNGGUH ADZAB-KU SANGAT PEDIH".

Minggu, 28 April 2013

PERBANDINGAN ALIRAN SALAF DAN KHALAF


A.    SALAF (IBN HAMBAL DAN IBN TAIMIYAH)
Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk generasi sahabat, tabi’, tabi tabi’in, para pemuka abad ke-3 H., dan para pengikutnya pada abad ke-4 yang terdiri dari atas para muhadditsin dan lainnya. Salaf berarti pula ulama-ulama saleh yang hidup pada tiga abad pertama islam. [1] Sedangkan menurut As-Syahrastani, ulama salaf adalah yang tidak menggunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat) dan tidak mempunyai faham tasybih (anthropomorphisme). [2] Sedangkan Mahmud Al-Bisybisyi dalam Al-Firaq Al-Islamiyyah mendefinisikan salaf sebagai sahabat, tabi’in, tabi’in yang dapat diketahui dari sikapnya menampak penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk menyucikan dan mengagungkan-Nya.[3] Ibn Taimiyyah adalah seorang ulama besar penganut Imam Hambali yang ketat.
Karakteristik ulama salaf atau salafiyah menurut Ibrahim Madzkur adalah sebagai berikut:[4]
1.    Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) daripada dirayah (aql).
2.    Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin) dan persoalan-persoalan cabang agama (furu’ ad-din), mereka hanya bertolak dari penjelasan dari Al-Kitab dan As-Sunah.
3.    Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang Dzat-Nya) dan tidak pula mempunyai faham anthropomorphisme.
4.    Mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna lainnya, dan tidak berupaya untuk menakwilkannya.
Adapula tokoh-tokoh yang dikategorikan oleh Ibrahim Madzkur yaitu:
1.    Abdullah bin Abbas (68 H)
2.    Abdullah bin Umar (74 H)
3.    Umar bin Abd Al-Aziz (101 H)
4.    Az-Zuhri (124 H)
5.    Ja’far  Ash-Shadiq (148 H)
6.    Para imam mazhab yang empat (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal)
Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya dikembangkan Imam Ibn Taimiyah, kemudian disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia islam secara sporadis.[5] Di Indonesaia sendiri, gerakan ini berkembang lebih banyak dilaksanakan oleh gerakan-gerakan Persatuan Islam (Persis), atau Muhammadiyah. Gerakan-gerakan lainnya, pada dasarnya juga dianggap sebagai gerakan ulama salaf, tetapi teologinya sudah dipengaruhui oleh pemikiran yang dikenal dengan istilah logika. Sementara itu, para ulama yang menyatakan diri mereka sebagai ulama salaf, mayoritas tidak menggunakan pemikiran dalam membicarakan masalah teologi (ketuhanan).
Dibawah ini adalah ulama salaf dan pemikirannya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kalam sebagai berikut:
a)      Imam Ahmad Bin Hambali
·      Riwayat Singkat Hidup tentang Ibn Hanbal
Ia dilahirkan di Baghdad tahun 164 H/780M, dan meninggal 241 H/855M. Ia sering dipanggil Abu Abdillah karena salah seorang anaknya bernama Abdillah. Namun, ia dikenal dengan nama Imam Hanbali karena merupakan pendiri mazhab Hanbali.
Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah binti Abdul Malik bin Sawadah bin Hindur Asy-Syaibani, bangsawan dari Bani Amir. Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Anas bin Idris bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban, bin Dahal bin Akabah bin Sya’bah bin Ali bin Jadlah bin Asad bin Rabi Al-Hadis bin Nizar. Di dalam keluarga nizar, Imam Ahmad bertemu keluarga dengan nenek moyangnya Nabi Muhammad SAW.
Ibn Hanbal dikenal sebagai seorang zahid. Hampir setiap hari ia berpuasa dan hanya tidur sebentar ketika malam hari.
Diantara murid-murid Ibn Hanbal adalah Ibn taimiyah, Hasan bin Musa, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Abu Zuhrah Ad-Damsyiqi, Abu Zuhrah Ar-Razi, Ibn Abi Ad-dunia, Abu Bakar As-Asram, Hanbal bin Ishaq Asy-Syaibani, Shaleh, dan Abdullah. Kedua orang yang disebutkan adalah putra Ibn Hanbal.[6]
·      Pemikiran Teori Ibn Hanbal
1.      Tentang ayat-ayat mutasyabihat
Dalam memahami ayat-ayat al-qur’an, Ibn Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) daripada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat. [7]
2.      Tentang status Al-Qur’an
      Salah satu persoalan teologis yang dihadapi Ibn hanbal, yang kemudian membuatnya dipenjara beberapa kali adalah tentang status al-qur’an, apakah diciptakan (makhluk) yang karena hadis (baru) ataukah tidak diciptakan yang karenanya qadim? Faham yang diakui oleh pemerintah, yakni Dinasti Abbasiyah di bawah kepemimpinan khalifah Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq dalah faham Mu’tazilah, yakni al-quran tidak bersifat qadim tetapi baru dan diciptakan. Faham adanya qadim di samping Tuhan, berarti menduakan Tuhan, sedangkan menduakan Tuhan adalah syirik dan dosa besar yang tidak diampuni Tuhan.
      Ibn Hanbal tidak sependapat dengan faham tersebut diatas. Oleh karena itu, ia kemudian diuji dalam kasus mihnah oleh aparat pemerintah. Pandangannya tentang status al-qur’an dapat dilihat dari dialognya dengan Ishaq bin Ibrahim, Gubernur Irak: [8]
Ishaq          : Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?
Ibn Hanbal            : Sabda Tuhan
Ishaq          : Apakah ia diciptakan?
Ibn Hanbal            : Sabda Tuhan. Saya tidak mengatakan lebih dari itu.
  Ishaq           : Apa arti ayat: Maha Mendengar (Sam’i) dan Maha Melihat (Basir)? (Ishaq ingin menguji Ibn Hanbal tentang faham anthropomorphisme.)
Ibn Hanbal  : Tuhan menyifatkan diri-Nya (dengan kata-kata itu).
Ishaq           : Apa artinya?
Ibn Hanbal  : Tidak tahu. Tuhan adalah sebagaimana Ia sifatkan pada diri-Nya.
        Ibn Hanbal, berdasarkan dialog diatas, tidak mau membahas lebih lanjut tentang status al-qur’an. Ia hanya mengatakan bahwa al-qur’an tidak dociptakan. Hal ini sejalan pola pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah kepada Allah dan Rosul-Nya.
b.      Ibn Taimiyah
·      Riwayat Singkat Hidup tentang Ibn Taimiyah
Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim bin Taimiyah. Dilahirkan di Harran pada hari senin tanggal 10 Robiul Awwal tahun 661 H dan meninggal di penjara pada malam Senin tanggal 20 Dzul Qaidah tahun 729 H. Kewafatannya telah menggetarkan dada seluruh penduduk Damaskus, Syam, dan Mesir, serta kaum muslimin pada umumnya. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdul Halim bin Abdussalam Ibn Abdullah bin Taimiyah, seorang Syekh, Khatib dan Hakim di kotanya.
Masa hidup Ibn Taimiyah berbarengan dengan kondisi dunia islam yang sedang mengalami disintegrasi, dislokasi sosial, dan dekadensi moral dan akhlak. Kelahirannya terjadi lima tahun setelah baghdad dihancurkan pasuka Mongol, Hulagu Khan. Oleh sebab itu, dalam upayanya mempersatukan umat islam, mengalami banyak tantangan, bahkan ia harus wafat di dalam penjara.
·      Pemikiran teologi Ibn Taimiyah
Pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah, seperti dikatakan Ibrahim Madkur adalah sebagai berikut: [9]
a.       Sangat berpegang teguh pada nas (teks al-qur’an dan al-hadis)
b.      Tidak memberi ruang gerak yang bebas kepada akal.
c.       Berpendapat bahwa al-qur’an mengandung semua ilmu agama.
d.      Di dalam islam yang diteladeni hanya 3 generasi saja (sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in)
e.       Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-Nya.

Ibn Taimiyah mengkritik Imam Hanbali dengan mengatakan bahwa kalaulah kalamullah itu qadim, kalam pasti qadim pula.
Pandangan ibn taimiyah tentang sifat-sifat allah sebagai berikut:
a.       Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang Ia sendiri atau rasul-Nya menyifati. Sifat-sifat yang dimaksud adalah:
1.      Sifat salbiyah
2.      Sifat ma’ani
3.      Sifat khabariyah
4.      Sifat dhafiah
b.      Percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah atau rasul-Nya sebutkan. Seperti;
Al-awal, al-akhir, azh-zhahir, al-bathin, al-alim, al-qadir, al-qayyum, as-sami, dan al-basir.
c.       Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah tersebut dengan:
1.    Tidak mengubah maknanya pada makna yang tidak dikehendaki lafadz (min ghair tahrif)
2.    Tidak menghilangkan pengertian lafadz (min ghair ta’thil)
3.    Tidak mengingkarinya (min ghair ilhad)
4.    Tidak menggambar-gambarkan bentuk tuhan, baik dalam pikiran atau hati, apalagi dengan indera (min ghair takyi at-takyif)
5.    Tidak merupakan (apalagi menyamakan) sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya (min ghair tamsil rabb al-alamin). Hal ini disebabkan bahwa tiada sesuatu pun yang dapat menyamai-nya, bahkan yang menyerupai-Nya pun tidak ada.
Berdasarkan alasan diatas, Ibn Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat. Menurutnya, ayat dan hadis yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan dan sebagaimana adanya, dengan catatan tidak men-tajsim-kan, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk, dan tidak bertanya-tanya tentangnya.
Ibn Taimiyah mengakui tiga hal dalam masalah keterpaksaan dan ikhtiar manusia, yaitu:
1.   Allah pencipta segala sesuatu
2.   Hamba pelaku perbuatan yang sebenarnya dan mempunyai kemauan serta kehendak secara sempurna, sehingga manusia bertnggung jawab atas perbuatannya.
3.   Allah meridhoi perbuatan baik dan tidak menridhoi perbuatan buruk. [10]
Dikatakn oleh Watt bahwa pemikiran ibn taimiyah mencapai klimaks dalam sosiologi politik yang mempunyai dasar teologi. Masalah pokoknya terketak pada upayanya membedakan manusia dengan Tuhannya yang mutlak. Oleh sebab itu, masalah Tuhan katanya tidak dapat diperoleh dengan metode rasional, baik dengan metode filsafat maupun teologi.

B.     KHALAF: AHLUSSUNAH (AL- ASY’ARY DAN AL-MATURIDI)
Kata khalaf bisa digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf, diantaranya tentang penakwilan terhadap sifat-sifat Tuhan yang serupa dengan makhluk pada pengertian yang sesuai dengan ketinggian dan kesucian-Nya.[11]
Adapun ungkapan Ahlisunnah (sering juga disebut dengan Sunni) dapat dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu secara umum dan secara khusus. [12] sunni dalam pengertian secara umum adalah lawan kelompok Syi’ah. Dalam pengertian ini, Mu’tazilah –sebagai juga Asy’ariyah- masuk dalam barisan sunni.[13] Sunni dalam pengertian secara khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan Mu’tazilah.[14]
Ahlussunah banyak dipakai setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran Mu’tazilah.[15] Harun nasution menjelaskan bahwa aliran Ahlussunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Al- Hasan Al- Asy’ari sekitar tahun 300 H. [16]
a.       Al-Asy’ary
·      Riwayat Singkat Hidup tentang Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari.[17] Menurut beberapa riwayat, Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/875 M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H/935 M.[18]
Menurut Ibn Asakir, ayah Al-Asy’ari adalah seorang faham ahlisunnah dan ahli hadis. Ia wafat ketika Al-Asy’ari masih kecil. Sebelum beliau wafat, beliau berpesan kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik anaknya sampai dia faham dan berguna bagi penduduk sekitarnya.[19]
·      Doktrin-doktrin Teologi Al-Asya’ari
a.       Tuhan dan Sifat-Sifat-Nya
b.      Kebebasan dalam Berkehendak (free will)
c.       Akal dan Wahyu dan Kreteria Baik dan Buruk
d.      Qadimnya Al-Qur’an
e.       Melihat Allah
f.       Keadilan Kedudukan Orang Berdosa
b.      Al-Maturidi
·      Riwayat Singkat Hidup tentang Al-Maturidi
Abu manshur al-maturidi dilahirkan di maturid, sebuah kota kecil di daerah samarkand, wilayah trmsoxiana di asia tengah, daerah yang sekarang disebut uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperrkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 H. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M.[20]
Karir pendidikan Al-mat#uridi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi daripada fiqih. Ini dilakukan untuk memperkuat pengetahuan dalam menghadapi faham-faham teologi yang banyak berkembang dalam masyarakat Islam, yang tidak dipandangnya tidak sesuai dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara. Pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam dalam bentuk karya tulis. Diantaranya adalah Kitab Tauhid, Ta’wil Al-Qur’an, Ushul Fi Ushul Ad-Din dan lain sebagainya.
·      Doktrin-doktrin Teologi Al-Maturidi
a.       Akal dan Wahyu
b.      Perbuatan Manusia
c.       Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
d.      Sifat Tuhan
e.       Melihat Tuhan
f.       Kalam Tuhan
g.      Perbuatan Manusia
h.      Pengutusan Rasul
i.        Pelaku Dosa Besar (Murtakib Al-Kabir)


[1] Thablawy Mahmud Saad, At-Tashawwuffi Turasts Ibn Taimiyah. Al-Hai Al-Hadis Al-Mishriyah Al-Ammah li Al-kitab, Mesir. 1984. Hal. 11-38.
[2] Asy-Syahrastaniy, Al-Milal wa An-Nihal. Dar Al-Fikr, Beirut, t.t.. hal.92-93
[3] Abubakar Aceh, Salaf: Islam Dalam Masa Murni. Ramadhani. Solo. 1986, hal.25.
[4] Ibrahim Madkur, Fi Al-Falsafah Al-Islamiyah: Manhaj wa Tathbiquh, jilid II. Dar Al-Maarif. Mesir. 1947. Hal, 30.
[5] Harun Nasution dalam kuliah-kuliahnya dalam Mata Kuliyah “ Pemikiran dalam Islam,” di Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 1996: baca juga Hafidz Dasuki, Ensiklopedia Islam. Jilid. V. Cet. I. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta. 1993, hal. 160.
[6] Dasuki, op. Cit . hal. 84
[7] Ibid., hal 84
[8] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran sejarah Analisa Perbandingan, UI Press, Jakarta, 1986, hal. 62-63
[9] Madkur.op. cit., hlm.31
[10] Zahrah, op. Cit., hal 183
[11] Abubakar Aceh, Salaf: islam dalam masa murni, Ramadhani, Solo, 1986, hlm. 25.
[12] Jalal Muhammad Musa, nas’ah al-asya’irah wa Tathawwuruha, Dar Al-Kitab Al-Lubhani, Beirut, 1975, hlm. 15.
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran sejarah Analisa Perbandingan, UI Press, Jakarta, 1986, hal. 64
[16] Ibid
[17] Muhammad Imarah, Tayyarat Al-Fikr Al-Islami, Dar Asy-Syuruq, Beirut, 1911, hal. 163
[18] Abdurrahman Badawi, Mazhab Al-Islamiyyin, Dar Ilm li Al-Malayin, 1984, hal. 497
[19] Ibid., hal 491
[20] H. AR. Gibb, et al., The Encyclopedia Of Islam, vol. V, E.J. Brill, Leiden, 1960, hlm. 414

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar